Jika Tuhan Memang Sama

I found this poem almost one year ago from this link all credits go to her account.

Jika Tuhan Memang Sama

Jika Tuhan memang sama
Haruskah kita menunjuk salah
Orang berbeda agama?

Jika Tuhan memang sama
Haruskah kita membuat musnah
Orang berbeda doa?

Jika Tuhan memang sama
Haruskah kita bersusah payah
Menjadi Allah bagi sesama?

Sudah lama sekali rasanya,sejak saya terakhir menulis dalam bahasa Indonesia.Tepat dua hari yang lalu kita memperingati hari lahirnya Pancasila.Untuk pertama kalinya sepanjang ingatan saya,hari itu dijadikan hari libur nasional.Beberapa adik kelas saya malah masih juga harus menghadiri upacara bendera.Banyak yang mengomel tentu saja,namun sebelum kalian menggerutu lebih lanjut,coba pikirkan apakah peringatan ini memang sepenuhnya nonsense?Atau memang sesungguhnya perlu sekali untuk dirayakan setiap tahun?

If you reside in this country,saya percaya kalian semua sudah tahu kasus saling menista Tuhan antar sesama umat beragama di negri ini.Kasusnya rame ampun-ampunan sampai bosan saya dengernya.Nyalain TV ketemu kasus ini,pindah channel eh sama aja,nyalain radio sama aja,baca koran omg ketemu lagi.Nah gara-gara ini,saya jadi punya hipotesa(ingat ya hipotesa jadi cuma ilmu kira-kira aja ngga tau bener atau ngga) bahwa peringatan hari lahir pancasila tahun ini sampai diupacarakan segala untuk mengingatkan seluruh rakyat negri ini bahwa Indonesia dulunya dibangun atas dasar persatuan.Atas dasar Ketuhanan Yang MahaEsa,yang berarti Tuhannya Satu dan sama tanpa mempedulikan tetek bengek lainnya.Intinya kita sama-sama menyembah Sang Pencipta Alam Semesta,tanpa perlu meributkan sebutannya.

Saya sendiri sejak kecil bersekolah di Sekolah Dasar 5 agama.Di sana kami diajarkan bahwa di dunia ini hanya ada dua jenis orang yaitu orang jahat dan orang baik.Sisanya abaikan saja.Ras,warna kulit,agama,orientasi seksual,status ekonomi,status sosial,semua itu cuma embel-embel yang melekat pada jati diri manusia yang sesungguhnya yakni nilai luhur budi pekertinya.Mungkin karena ajarannya sudah seperti itu sejak kecil,sampai sekarang dalam berteman saya sama sekali tidak mempersoalkan hal-hal seperti itu.Mungkin karena hal itu pula saya bertumbuh menjadi pribadi yang sangat tidak suka dengan perilaku diskriminatif dalam hal apapun termasuk rasisme dan sexisme.

Perilaku diskriminatif yang saya maksud di sini bisa datang dari mana saja,baik kaum mayoritas maupun kaum minoritas.Saya jujur saja kurang suka juga dengan kaum minoritas yang mau mendukung politisi tertentu hanya dengan alasan warna kulit dan agamanya sama (kalian taulah politisi mana yang saya maksud) bukan karena kejujuran atau integritasnya.Fenomena yang terjadi di negara kita ini merupakan bukti nyata bahwa kaum minoritaspun ternyata juga diskriminatif.Contoh nyata lainnya,kali ini lebih real karena menyangkut personal life saya,ada seorang teman yang baru saja berpindah haluan agama.Sebut saja dari agama minoritas pindah ke agama mayoritas.You can guess what happen next?Yap si teman ini langsung digossipin habis-habisan di belakang punggungnya.Saya merasa teramat sangat miris.Sumpah. Hey if you are reading this(you know who you are)I still love you despite everything else!Intinya,saya cuma mau bilang bahwa baik mayoritas maupun minoritas semuanya sama-sama punya peluang untuk berperilaku diskriminatif,semua kembali kepada pribadi masing-masing lagi.Semua dari kita sama-sama masih harus belajar.Belajar untuk saling mengerti,untuk saling menerima.Buat apa susah payah memahami kalkulus dan trigonometri kalau memahami lingkungan sendiri saja tidak bisa??

Terakhir sebagai paragraf kesimpulan,saya ingin menekankan bahwa tak akan ada perilaku diskriminatif jika tak ada kebencian,dan tak akan ada kebencian tanpa ada keterpisahan.Jadi,saya berharap sebagai generasi baru dari bangsa ini,kita semua mampu mengembangkan jiwa toleransi dan hidup dalam rasa saling menghargai tanpa perlu saling menjadi hakim bagi sesama seperti yang telah disajakkan Adela pada puisi di atas.Tulisan ini saya buat setulus-tulusnya dari hati tanpa bermaksud menyakiti pihak manapun,so no hard feelings peeps!See ya!

true af

PS: this is my self mantra this week

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s