Supernova: Petir -Dewi Lestari

Sudah lama sekali rasanya sejak saya terakhir kali menulis sebuah resensi di blog ini.Bukannya karena saya tidak lagi membaca buku namun lebih karena kesibukan saya yang membuat saya semakin jarang memiliki waktu untuk menulis sebuah resensi.Padahal menulis resensi sebenarnya sangat menguntungkan bagi saya karena mampu menghidupkan kembali perasaan dan suasana yang timbul dalam hati saya ketika membaca sebuah buku cerita.Jadi di penghujung tahun ini saya meluangkan sedikit waktu saya (memaksakan lebih tepatnya) untuk menulis lagi sebuah resensi buku yang menurut saya benar-benar luar biasa dan entah bagaimana buku ini telah ‘menyentuh’ kehidupan saya.Saya telah membaca ratusan buku sejauh ini namun hanya ada beberapa buku saja yang terasa istimewa dan mampu menyentuh jiwa saya pada saat membacanya,buku berjudul ‘Petir’ yang merupakan serial ketiga dari Supernova karya Dewi Lestari ini termasuk salah satu dari segelintir buku-buku istimewa tersebut.Ohya saya juga harus menginformasikan bahwa saya membaca buku ‘Petir ‘ ini lebih dulu daripada buku ‘Akar’ yang merupakan serial kedua Supernova,sebelum ini saya telah menuliskan resensi dari serial pertama Supernova,bagi kalian yang belum pernah membacanya silahkan klik di sini.Selanjutnya,kita langsung mulai saja yàaa…

image

Petir-Dewi Lestari

“Segalanya memang tak lagi sama.Untuk pertama kalinya Watti berhadapan dengan situasi yang tak bisa ia antisipasi,bahwa akan tiba saatnya orang berhenti menilaimu dari wujud fisik,melainkan dari apa yang kau lakukan.”

Kisah dimulai dengan Ruben dan Dimas (baca Supernova Ksatria,Putri,dan Bintang Jatuh)yang hendak merayakan hari jadi mereka.Hubungan mereka sempat memanas,kemudian datang pesan dari Gio yang mengatakan bahwa Diva Anastasia menghilang dalam ekspedisi di Tambopata (baca Akar)
Kisah kemudian bergulir dan berpindah kepada Elektra,di sini penulis memperkenalkan salah satu tokoh barunya yang nantinya disebut sang ‘petir’.Mass lalu Elektra dirangkum dalam sebuah jeda percakapan antara Elektra dan seorang sales,luar biasa bukan?Inilah ciri khas Dewi Lestari dalam menguraikan kisah-kisahnya.Elektra adalah seorang keturunan tionghua yang tinggal di Bandung di sebuah rumah belanda bernama Eleanor bersama kakaknya Watti dan ayahnya yang dipanggil Dedi.Ayahnya adalah seorang tukang listrik.Sejak kecil Watti dan Elektra dicemplungkan ke sekolah negeri.Di lingkungan keluarga besar mereka dikucilkan para saudara karena mereka berbeda dalam banyak hal seperti tidak bisa menyanyi lagu mandarin,tidak saling memanggil ‘cici’ dan ‘mei mei ‘ satu sama lain ,Dan lain-lain.Di sekolahpun mereka juga harus menyesuaikan diri.Singkat cerita,Watti yang berwajah cantik menikah dengan seorang pribumi kaya yang biasa dipanggil Kang Atam setelah sebelumnya menjual iman kristennya terlebih dulu karena keluarga Atam ingin menantunya memeluk islam.
“Pindah agama itu cuma seperti pindah tegangan,yang surganya dulu jadi neraka,nerakanya dulu sekarang jadi surga.”-Elektra
Saya sekali lagi mengatakan bahwa saya sangat menyukai penuturan Dee dalam menyinggung masalah SARA yang selama ini kerap dihindari banyak penulis.Penuturannya terasa sangat jujur,tidak menutup-nutupi kenyataan,lugas,bijak,dan tidak diskriminatif.Oke back to topic…
Setelah Watti menikah,Dedi meninggal dunia,maka tinggalah Elektra seorang diri dalam Eleanor yang terpuruk.Elektra menyukai petir dan bisa menyetrum orang.Ia menjadi pengangguran selama beberapa lama dan terus hidup dalam keterpurukan sampai akhirnya ia bertemu dengan Ibu Sati-seorang instruktur yoga.Hidup Elektra bergulir dengan cepat setelahnya,ia menemukan dirinya terjerumus dalam cinta pada dunia teknologi lalu bersama dengan Mpret alias Toni,Mi’un,dan teman-temannya ia menyulap Eleanor menjadi Elektra Pop–sebuah zona dengan warnet,rental PS,karaoke,dan lain-lain.Hidupnya berubah,keuangannya maju pesat dan potensi besar dalam dirinya makin menjadi.Tubuh Elektra ternyata mampu mengalirkan dan mengendalikan listrik.Ia menjalani latihan teratur sampai akhirnya mampu melakukan pengobatan dengan listrik.Beberapa kali ia berkonflik dengan Mpret alias Toni -kawan kerjanya yang ternyata diam-diam memendam rasa sayang pada Elektra.Di akhir cerita,muncul tokoh Bong dari serial Akar.Bong yang ternyata adalah sepupu Mpret meminta Elektra untuk menolong seseorang yang tidak mau saya sebut namanya di sini karena nanti tidak seru jadinya.Dan buku ini pun berakhir di sana,tepat di titik temu pertama antara tokoh-tokoh yang diciptakan Dewi dalam serial-serial terpisah Supernova.
Walaupun sudah banyak saya bocorkan ceritanya,saya rasa buku ini masih harus kalian masukan dalam reading list bulan ini,HARUS!
Kekurangan dari buku ini hanyalah penyusunan alurnya yang agak lompat-lompat membingungkan serta penggambaran watak dan ciri fisik tokoh sampingan yang kurang jelas,sisanya sih oke oke aja,very worth to read pokoknya!!

empat setengah bintang dari saya untuk buku ini!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s