Selamat tahun Baru

Aku mematut diri di depan cermin.Gaun biru gelapku tampak sempurna membalut tubuhku yang jenjang,rambut panjangku kuikat tinggi membentuk sanggul di atas kepala,sepatu hitam bertumit tinggi juga ikut menyemarakkan penampilanku.Aku memandangi bayanganku sekali lagi.Sempurna.***
Aku menggengam kalender itu dengan cemas.Keringat dingin di telapak tanganku membasahi kertas licin itu.31 Desember-tanggal ini akhirnya tiba juga.Tak terasa setahun telah bergulir.Bumi telah menggelinding kembali ke titik awalnya,bersiap menempuh perjalanan panjang yang menjemukan itu lagi.Rutinitas berulang.Orbit yang sama.Banyak sekali hal telah terjadi dalam tahun ini.Semua hal yang telah kubangun selama 24 tahun di dunia berubah drastis hanya dalam 1 tahun.Kepribadian keras dan tertutup yang telah ditanamkan oleh kedua orang tuaku dengan susah payah di dalam diriku sejak dulu hancur tak berbekas-hanya dalam waktu satu tahun.Aku tersenyum-senyum sendiri memikirkan alasan di balik ini semua.Seseorang yang menjungkirbalikan hidupku.Ano.A-N-O kueja namanya dalam hati untuk kesekian ratus kalinya.Tahun lalu pada tanggal yang sama aku masih berada di kantor,menghadap layar komputerku yang membuat mata sakit sambil mengetik artikel keuangan ditemani secangkir kopi hitam.Tahun lalu juga,masih dalam tanggal yang sama,aku membenci satu kata cinta.C-I-N-T-A.Terbayang dengan jelas di benakku diriku sendiri sedang mengetik,kacamata bertengger di hidung,rambut kusut dan berantakan,kantung mata hitam melingkari kedua mataku,rahang keras bertulang tajam,dan tangan-tangan kurusku yang menari-nari di atas keyboard.Aku menggeleng,berusaha menghilangkan pemandangan mengerikan itu.Aku turun dari mobil,memasuki gedung pencakar langit di hadapanku dengan langkah-langkah ringan.***
Jam 7
Jam 8
Jam 9
Jam 10
Jam 11
Lima jam sudah aku menunggumu di dalam restoran.Aku sudah menelan empat puding karamel,dua porsi chicken cordon bleu,dan tiga per empat botol anggur.Aku ingin memesan lagi,tapi takut mabuk.Kapan kau tiba?Tidak tahukah kau bahwa aku menunggumu?Kau adalah orang yang sempurna.Kau tidak pernah terlambat,jarang ingkar janji,tegas dan disiplin,menghargai waktu dan rutinitas-betapapun membosankannya rutinitas itu.Aku tahu kau selalu meletakan sendok garpumu di sisi kiri piring makan,menempatkan sendok teh mu di sisi kanan cangkir kopi pada pagi hari dan sebaliknya saat malam hari.Kau tak pernah sekalipun melalaikan hal-hal itu.Kau selalu membiarkanku turun terlebih dulu dari taksi,menempatkan dirimu di sisi trotoar yang menghadap jalan raya apabila kita berjalan berdampingan.Kau tidak pernah lupa hari ulangtahun semua kenalanmu walaupun jumlahnya hampir jutaan,kau tak pernah melalaikan apapun,tapi ada apa dengan hari ini?Apakah kesempurnaanmu menemukan batasannya hari ini?Hatiku mulai cemas.Pasti ada sesuatu yang terjadi.
“Mau pesan apa lagi,Nona?”pelayan muda itu menghampiri mejaku lagi.
“Red House sebotol lagi.”Aku menjawab asal sementara tanganku terus menatap ponsel dengan cemas.Mengapa smsku tak dibalas?Mengapa teleponku tak dijawab?Aku memencet nomor yang sudah kuhafal di luar kepala itu sekali lagi.Tolong jawablah…
“Halo..”sebuah suara menjawab.Suara seorang wanita.Bukan suara ini yang ingin kudengar.Aku ingin mendengar suaranya.”Halo,dengan siapa ini?”tanpa sadar suaraku terdengar kasar.”Madeline,ini siapa?”jawab suara itu.”Ini nomor 08159425576 ,kan?”tanyaku.”Iya.”
“Ini teleponnya Bapak Calfiano Suhenda,bukan?”Aku merasa pertanyaanku tidak konyol,siapa tahu telepon genggam Ano tertinggal di suatu tempat lalu ditemukan oleh orang lain.”Iya,dia ada di sini.Anda siapa,ya?”
“Anda yang siapa?”aku hampir berteriak.”Eh,teman barunya Bapak Calfiano.Anda mau bicara dengan beliau?”Aku tidak mampu menjawab.Dia ada di tempat lain,sedang merayakan malam tahun baru dengan teman barunya dan melupakan janjinya denganku begitu saja.Sayup-sayup aku mendengar suara Ano di ujung telepon sana”Manda?.”Kepalaku pening,mataku terasa kabur oleh air mata.”Ano?!”jeritku.”Manda,maafkan aku.Tiba-tiba aku mendapat undangan makan malam hari ini.Aku tidak dapat menemuimu dalam waktu dekat ini..”kupotong perkataannya.”Kapan aku bisa menemuimu?”
“Entahlah,mungkin kapan-kapan.Inikan sudah tahun baru,Manda.Aku ada kesibukan lain bersama Maddy.Selamat Tahun Baru,Manda.Terima kasih untuk tahun yang indah ini,aku senang bisa mengenalmu.”Setelah berkata begitu ia memutuskan sambungan telepon.Aku mencoba lagi tapi tidak terjawab,aku mencoba lagi,lagi,lagi,dan lagi namun tetap tanpa hasil.Semuanya berakhir di situ.Aku terlalu benar menilainya.Ia tidak pernah melalaikan rutinitas,apapun itu,termasuk berganti gandengan setiap awal tahun baru.Aku tahu ini juga salahku.Semestinya aku menyadari sejak awal kami bertemu.Tahun lalu tepat pada tanggal yang sama,aku mendengarnya bercakap-cakap di telepon dengan seseorang,aku hanya mendengar kalimat terakhirnya saja,”Selamat tahun baru Jenny.”Aku tidak mengerti bahwa baginya kalimat itu berarti”Selamat tahun baru,Selamat Pacar Baru,dan Selamat tinggal pacar tahun lalu.”
Aku tersadar bahwa hidup di dunia ini memang tidak pernah bisa sempurna,tapi segalanya tetap indah sebagaimana adanya selama kita bisa menerima segala yang terjadi.

Pembunuhan di Griya Kopi-Episode 1

Deretan lilin batangan yang berbaris rapi melingkari pohon natal gemerlapan.Lidah-lidah api kekuningan berkibar ke kiri dan kanan tertiup angin badai dari pintu yang terbuka sedikit.Aku hampir tak mampu bergerak lagi.Gigiku bergemeletuk kedinginan.Dengan susah payah aku beranjak turun dari kursi,terseok-seok berjalan menuju pintu.Kututup rapat-rapat pintu raksasa itu dan angin dingin berhenti berhembus.Aku ambruk di belakang pintu.Tak berdaya memandangi langit-langit rumah yang dilukis bagaikan kapel-kapel tua Italia.Entah untuk keberapa ratus kalinya aku mengurutkan gambar-gambar rumit nan indah yang dilukis di sana.Gambar-gambar tersebut membentuk silsilah keluargaku sejak jaman nenek buyut dari nenek buyutku.Aku bergidik menatap wajah-wajah leluhurku yang tidak kukenal itu.Mengapa harus aku?Aku bertanya lagi dalam hati,entah untuk keberapa kalinya sejak surat wasiat itu kutemukan.Kualihkan pandanganku kepada pohon natal besar di sudut ruangan.Pohon natal itu menjulang tinggi,berkilau-kilauan dengan ratusan kerlap-kerlip hiasan natal.Seorang malaikat bertengger di puncaknya.Tangga kayu yang melingkar-lingkar tampak menakutkan bagiku.Tante Elsa menuruni tangga itu,memandangiku dengan mata hijaunya yang cemas.”Lis,naiklah ke kamarmu dan beristirahatlah.Minggu ini memang melelahkan.”ujarnya.Aku juga ingin naik menuju kamar tidurku,tapi masalahnya aku tidak bisa.”Aku tidak bisa berger..ger..gerak.Di si..sini dingin..”kataku di sela-sela gemeletuk gigi,suaraku terdengar lemah dan gemetaran.Tante Elsa yang kini menjadi satu-satunya kerabatku yang masih hidup,berusaha membopongku ke lantai dua.Tubuh Tante Elsa hampir sama besar dengan tubuhku sehingga aku sangat khawatir ia tidak kuat kemudian ambruk.Tapi untungnya kami berhasil mencapai kamar tidur.Aku berbaring telentang di atas kasur berseprai putih yang kaku akibat sering dikanji.Lampu kristal yang menggantung di langit-langit kamarku terasa berputar.Tante Elsa duduk di tepi tempat tidur.”Mengapa Ibu harus meninggal di kamarku.”dengusnya untuk entah keberapa ratus kalinya sejak peristiwa itu terjadi atau lebih tepatnya seminggu yang lalu.”Nenek Henrietta dan Tante Alisa juga meninggal di kamarmu.”tukasku.Tante Elsa mengerang,”Iya,tapi mereka meninggal dengan wajar!Nenek buyutku meninggal karena usianya memang sudah sangat lanjut-105 tahun bayangkan!Alisa meninggal karena Emfisema,sementara Ibu meninggal karena luka tusukan di lehernya!”Aku merasa semakin pusing.Jantungku berdebar keras.”Apakah hal itu sangat mengganggumu?”bisikku.Mata Tante Elsa terlihat hampir copot,”Sangat!Terkadang aku bisa melihat mereka!Dan aku sangat takut jika sampai melihat Ibu lengkap dengan luka tusukannya!”Aku mendengus,”Aku tidak percaya thakayul,itulah perbedaan kita.”
“Aku sering melihat Alisa,khususnya sehabis makan udang!”Tante Elsa masih ngotot.”Aku lebih takut dengan kenyataan bahwa seorang pembunuh baru saja memasuki kamarmu minggu lalu.”kataku.”Jangan marah,Lis.Aku ingin tidur di kamarmu malam ini.”ujar Tanteku dengan pandangan memohon.Aku mengangguk.Kamarku cukup luas,lagipula aku juga tidak suka tidur sendirian di rumah di mana suatu pembunuhan misterius baru saja terjadi.Aku rasa aku tidak bisa tidur malam ini-bahkan dengan Tante Elsa di sampingku.Tante Elsa melepas ikatan rambutnya kemudian berbaring di sampingku.”Tante,siapakah musuh Nenek Helen selama ini?”tanyaku.Tak ada jawaban.Tanteku mengerutkan kening.”Hampir tidak ada,Lis.Ibu adalah wanita yang sangat baik dan dihormati.Semua orang menyayanginya,kecuali Pak Salvador mungkin.”katanya.”Pak Salvador yang mana?”tanyaku.”Penjual kopi di pinggiran kota sana.Masa kau tak tahu sih?Salvador Deli-raja kopi,pesaing berat perusahaan keluarga kita.”Aku tertegun,tubuhku mengejang.Salvador Deli?Ayah Septimus?
to be continue……