Nasional.Is.Me

Apakah kau mencintai negaramu?

Pertanyaan yang dilontarkan dengan asal saja itu sukses membuatku merenung berjam-jam.Bahkan kini,aku seorang diri masih sedang menatap langit-langit kamar tidurku dalam kegelapan.
“Apakah aku mencintai negaraku?” tanyaku pada diriku sendiri.
Aku mendesah tanpa bisa memperoleh jawaban.Sebenarnya aku tahu jwabannya hanya saja aku terlalu takut untuk mengakuinya.

Aku melirik jam di layar sentuh ponselku,sudah pukul setengah duabelas.Itu berarti tigapuluh menit lagi hari peringatan yang berarti ini akan berakhir sudah.Hari tanggal 17 Agustus 2009.Hari ini adalah hari peringatan kemerdekaan bangsaku,bangsa Indonesiaku.Sebagai seorang anggota badan intelegensi seksi keamanan negara maka sudah tentu sepanjang hari ini aku ikut menjaga keamanan berlangsungnya upacara bendera di istana negara.Selama upacara tadi aku berdiri setegak tiang di samping kiri presiden sambil mmenyandang senapan dan memberi hormat pada selembar bendera dua warna,nah kan aku malah menyebut sang merah putih sebagai bendera dua warna,baiklah kuralat saja ;sambil memberi hormat kepada Sang Dwi Warna.Panas matahari yang menyengat punggung terasa menyiksa bagaikan voltase listrik di siang bolong.Seragam putih-putih panjang yang kukenakan juga tidak mendukung,tapi setidaknya aku masih bersyukur karena warnanya putih bukan hitam.Akibat dijemur di lapangan upacara selama berjam-jam guna mendengarkan pidato panjang yang berisi tentang entahlah apa itu dan menyanyikan sederet lagu-lagu nasional panjang,akhirnya upacara berakhir.Tugasku memang belum berakhir,aku masih harus menjaga presiden dan rombongannya saat santap malam di Istana Bogor,tapi setidaknya tugas yang kali ini masih jauh lebih baik ketimbang yang tadi.Di ruang jamuan makan,aku duduk di ujung meja,masih harus menyandang senapan.Terkadang aku merasa salah masuk bagian,semestinya dulu aku masuk bagian seksi analisa saja daripada keamanan.Hidanga pembuka yang berupa sup disajikan.Aku menerapkan table manners yang sudah kuhafal luar kepala karena sering menghadiri acara formal smacam ini.Kedua sikuku samasekali tak bertumpu di meja,aku jug sama sekali tak bersuara hingga acara makan itu selesai.Si junior tiba dan aku bisa beristirahat selama dia menggantikan tugasku.Aku pergi ke luar ruangan,hndak mencari udarasegar di taman depan.Bunga api-api yang bergelantungan dan merambati kanopi hijau terlihat indah,kontras sekali dengan latar langit hitam kelam di belakangnya.Suhu udara Kota Bogor yang agak dingin tak menghalangi niatku.Sekali itu pakaian berkain tebal yang hampir selalu menjadi bahan dasar smua jenis seragamku ada gunanya.Aku sedang duduk di anak tangga selsar yang terbawah saat secara tiba-tiba kurasakan sebuah tepukan di pundakku.Spontan saja aku menoleh,memandang tepat ke dalam wajah wanita muda berambut pendek itu.Aku menaikkan alis,meminta penjelasan apabila ternyata ia mengenalku.”Mochtar!Apakah ini memang kau?”wanita yang ternyata Inggrid itu malah bertanya padaku.
“Ya,saya Mochtar Panduwinata,seksi keamanan Inteligensia RI0019.”kataku dengan nada bercanda.Mendengar suaranya saja sudah bisa membuatku langsung mengenalinya.Suara Inggrid sngat khas,serak-serak basah,agak bernada rendah seperti lelaki.Dulu waktu SMP dia bahkan dimasukan ke dalam suara bass oleh pembina paduan suara sekolah kami.”Dasar kau!Sudah jadi orang besar sekarang yo?”tanyanya dalam logat suroboyoan yang bersahabat.”Lha kamu dewe kok ia ada di sini ya apa ceritanya?”aku balas memamerkan kemampuan berbahasa surabayaku yang belum kunjung hilang walau telah hidup sepuluh tahun di Jakarta.Inggrid tersenyum simpul.”Apa ko malah mesam-mesem gitu,jawab dong.”Inggrid memeluk lututnya.”Aku diundang kok,bukan penyelundup,Mas,tenang aja.Tak perlu kau tembak aku dengan senapan raksasamu itu.”Inggrid mengulur-ulur waktu.”Aku ya tahu kau diundang tapi untuk keperluan apa?”-heningsejenak-“Penghargaan atas jasaku memberi bantuan pendidikan gratis di seluruh pedalaman Indonesia.Proyek kami maju pesat karena ada banyaknya orang-orang berduit yang mulai tersentuh hatinya untuk peduli pada anak-anak bangsa yang masih tertinggal di luar sana.Tuhan rupanya juga telah menyadarkan hati masyarakat.Kerjaanmu sendiri udah enak ya?Tercapai kan cita-citamu sejak kecil dulu?”Aku mendesah panjang sebelum menjawab bahwa pekerjaanku menyebalkan,menuntutku siaga siang malam demi kepentingan bangsa yang tak beres.Aku menggerutu terus tanpa sadar antang segala hal.Mulai dari kemacetan,banjir,bahkan sampai dunia hiburan yang menurutku tak berkualitas.Inggrid menyelaku beberapa kali dengan nada heran dan tajam tapi tak kuhiraukan dia sampai akhirnya pada waktu aku mulai mengomel bahwa semestinya sudah waktunya kereta MRT dibangun di beberapa kota besar Indonesia lalu mencela pelbagai hal lainnya,Inggrid melontarkan satu pertanyaan,”Apakah kau mencintai negaramu?”Aku lansung terdiam.Inggrd berdehem,”Aku salah bertanya,yang benar adalah apakah kau masih mencintai negaramu?”Mengapa kau ralat?”tanyaku.”Karena aku tahu benar bahwa dulu kau bangga dan mencintai tanah airmu,namun setelah mendengar celotehanmu barusan aku jadi ragu kau masih mempertahankan rasa itu.”jawabnya.
“Tentu saja aku mencintainya.”
“Jika kau mencintainya kau tak akan mengejek sedemikian rupa,kau semestinya akan tekun berjuang membawa negri ini kepada suatu masa kemajuan,masa perubahan ke arah yang jauh lebih baik sepertinya yang dulu selalu kau katakan.Kau masih ingat pada perjanjian cinta tanah air kita dulu?Dulu kita berjanji bahwa kita akan memberikan jasa bagi bangsa kita saat dewasa kelak.’Nasional.Is.Me’,kau yang mengarangnya.”Begitulah,Inggrid memang sangat ideologis.Dan dia benar tentang perkataan yang selalu kulang-ulang dengan berapi-api waktu SMP dulu itu.
Jika aku mencintai negaraku maka aku mesti mau bernuat apapun demi kebaikkannya,bukannya mengomel tak jelas.Nasionalisme tak bisa dibangkitkan oeh apapun selain oleh diri kita sendiri.Aku adalah bagian dari negara ini sehingga bertanggung jawab atas masa depannya,aku adalah bagian dari Indonesia,secara nasional dari sabang sampai merauke.Aku rakyat Indonesia.
Aku harus berjuang keras,tekun melakukan kewajibanku sebagai anggota badan intelligensia.Pengaruhku besar,dan aku harus menggunakan kesempatan ini untuk menyumbangkan kontribusi jasa sebesar-besarnya.Ya,mestinya begitu.Tapi pada kenyataannya apakah yang selama ini kulakukan?Berusaha menghindari tiap tugas tengah malam?Melamun dalam rapat-rapat?Ya,Tuhan maafkan aku.Tanpa terasa butir demi butir air mata menetes,membasahi pipiku.
Lagu caifornian girl milik Katty Perry mengalun dari ponselku tanda telepon masuk.Nama ketua seksi keamanan,atasanku muncul pada layar sentuh.Aku mengangkat telepon dengan segera,alih-alih mereject panggilan seperti yang biasa kulakukan pada semua panggilan lewat tengah malam.
“Halo,0019,apakah kau sekarang bersedia menggantika 010 beroperasi di heli presiden yang hendak berangkat ke Deli guna meninjau pembangunan sekolah menengah di sana?010 jatuh pingsan tiba-tiba,kini dia di RS AU.Tak jelas masih sebabnya.”logat betawi Anissa terdengar tidak berpengharapan karena tahu kemungkinan besar aku menolak tugas sukarela semacam ini.
“Siap,Bu ketua.”jawabku tegas.
Tak ada jawaban.
“Halo?Masih tersambung?”
“Iya,kau kau serius?Kau yakin?Ini bukan tugas wajib,aku tak memaksa,aku bisa mengontak 022 bila kau keberatan.”jawabnya terbata.Nada heran tersirat dalam suaranya.
“Tidak perlu Ibu hubungi 022,saya bersedia sepenuh hati.”
Ada sentakan kaget,”Oh,baik kalau begitu baguslah.022 bisa bertugas di Posko.Sungguh aneh ada banyak hal-hal tak terduga hari ini.Maafkan aku 0019 tapi kalau saya boleh tahu apa yang mendorongmu melakukan tugas ini?’Di tengah malam buta !’seperti yang selalu kau katakan biasanya?”Bu Anissa terdengar masih heran.
“Karena aku ada di sini untuk negaraku.Selamat bertugas,Bu.”
“Selamat bertugas,eh..”sambungan telepon terputus.
aku menyambar jas kerja biru tuaku,memakai topi dan sepatu botku lalu berjalan keluar rumah.Sebelum menghidupkan mesin mobil,kusempatkan diri untuk mereset ringtoneku menjadi ‘Garuda pancasila’ dan aku mengirim pesan singkat pada Inggrid.
Maafkan ucapanku td.Ak jwb prtyaanmu.Aku sdr.Aku cinta negaraku.Ak ingat:
Nasional.Is.Me.Suatu perjanjian yg mengikat kita.
Demi Indonesia.-Teman baikmu-