Jam Weker

“Kriiingggg…” bunyi yang terdengar sayup-sayup menyibak kabut alam mimpiku terdengar.Karena tak kunjung ditangggapi,jam weker itu mulai kesal,nada suaranya meninggi,”KRiiiIIInGG!!”

Bantal bermotif bungaku kuatekapkan pada kedua sisi telingaku guna menangkal bunyi sial yang mengganggu itu.Di sekolah dasar dulu aku diajarkan bahwa benda yang berpori seperti kain atau busa spons bisa menyerap bunyi.Untuk beberapa detik pertama,hal itu mujarab dan bisa dibuktikan,bunyi nyaring itu teredam bantal gemukku.
Sekali ini rupanya jam wekerku suda marah besar,dia berteriak keras-keras,membangunkanku,”KRIIIIIIIIIIIIIIIINNNNNNNNNNNNNNGGGGGGGGGGG!!!!!!!!!%**#%$!#$!”
Tanganku kujulurkan sepanjang mungkin untuk menggapai benda pemarah itu,kutekan tombol offnya lalu kulemparkan bantalku ke lantai.’asasdfghjjnm…’pikirku mengumpat-umpat.Seberkas cahaya matahari kuning pucat menerobos jendela kamarku.Aku masih terduduk di atas tempat tidurku,memandangi bayangan diriku sendiri yang terpantul pada cermin di lemari berpintu ganda yang kokoh,di hadapanku.Bayangan yang terlihat buram.Sebagian karena cahaya matahari yang menghalangi,sebagian lagi karena efek cacat mata astigmatisme 1 dan miopia 2 yang kuderita.Aku belum memakai kacamata saat baru bangun tidur.Kulirik benda biang onar itu,yang sedang duduk tegak di atas sebuah meja kayu kecil berukir di samping tempat tidurku.Sekarang masih pukul setengah tujuh.Kuliahku baru dimulai pukul sepuluh nanti.Sebagai anak kos,aku memang tak punya orang tua atau asisten atau apalah namanya untuk membangunkanku di pagi hari,jadi jujur saja kuakui bahwa jam weker ku itu telah besar jasanya dalam hal membuatku selalu kuliah tepat waktu tiap paginya.Dengan hati-hati,kujurkan tangank,menggapai jam weker kecil itu.Kuamati dia.Ukurannya kira-kira 20 cm,berbentuk susunan tiga ekor rusa cokelat muda yang sedang merumput.Kayu apelnya berbau wangi saat kudekatkan ke hidungku.Seberkas ingatan merayu kalbuku.Jam ini kudapatkan dari Armadio,teman kuliahku,yang dulu pernah kubenci setengah mati.Dia selalu meledek keterlambatanku datang tiap mata kuliah sejarah.”Wah,wah ini dia gadis telatan di mata kuliah sejarah yang patut dicatat dalam sejarah bangsa kita.”begitu selalu ledekannya tiap aku duduk di bangku paling depan,satu-satunya yang tersisa apabila kau datang terlambat dalam mata kuliah sejarah dengan napas ngos-ngosan.Entah apa sebabnya Armadillo selalu duduk di belakangku.Aku tak pernah peduli padanya sampai suatu malam aku secara tidak sengaja bertemu dengannya di sebuah kafe kecil di belakang Lamarto.Saat itu dia tanpa sengaja atau mungkin juga sengaja,menumpahkan secangkir esspresso raviolinya di rambutku.Sebagai ungkapan maafnya,dia menawarkan untuk memberiku hadiah.Aku mau-mau saja tak ingin dirugikan oleh keteledorannya.Yah lalu namanya juga orang usil,aku malah dihadiahi jam weker ini.Hmm walaupun kesal tapi jam ini toh masih kupakai juga sampai sekarang.Kenapa ya?Karena jam itu memang berguna.

Satu lagi hal yang harus kau tahu..

Sejak jam weker ini berdering setiap pagi di dalam kamar kos-kosan ku yang lumayan mewah ini,hubungan istimewa kami mulai terjalin.Kebersamaan kami berdetik bersama dengan jam weker kecil ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s