Permen Warna-Warni

Aku beranjak dari kursi berlenganku.”Aicha,mau permen?”tawarku pada Aicha yang duduk di sebelahku.Aicha menggeleng pelan,pandangannya menerawang ke arah jendela besar di ruang kerja kami.”Kamu akhir-akhir ini kenapa sih Cha?Kok jadi diam banget?”tanyaku.Aicha diam saja.Aku menggeret kursiku mendekat.”Cha?”Aicha menatapku.”Fay,aku hampir menyerah menghadapi kasus ini.”katanya.Kukunyah beberapa butir permen warna kuning sekaligus.Bunyi gemertak dan semburan cokelat cairnya membuatku bisa keluar dari beban berat ini sebentar.Segera sesudah lapisan terakhirnya meleleh habis,pikiranku sudah kembali pada realita yang mengikat dan harus dihadapi.”Titik terang memang belum tampak namun percayalah suatu saat kita pasti bisa membuktikan bahwa si Romley sialan itu memang pengedar,bukan hanya pemakai.”Aicha menangkupkan dua tangannya di pipi.”Aku pusing.Aku sedih,marah,dan kesal.”Aku menyambungnya,”Pada Bu Sussan?”Aicha menggeleng.”Bukan cuma pada Bu Susan tapi pada para aparat penegak hukum negara kita.”Aku mendesah.Aku memahami maksudnya karena aku sensiri juga merasakan hal yang sama.Aku sering merasa dunia ini bisa membuat siapapun ikut jadi gila jika terlalu lama berkecimpung di dalamnya.Malah terkadang aku jadi bisa memahami alasan orang-orang yang kuselidiki memakai narkoba.Mereka butuh sesuatu sebagai tiket untuk keluar dari realita yang ada,walaupun hanya untuk sesaat.Sama seperti aku dan permen warna-warniku.”Ini jaman gila memang Cha.Aku belajar satu hal dari pengalamanku selama bekerja di sini.”gumamku lebih ditujukan pada diri sendiri ketimbang pada Aicha.Aicha mendongak,”Apa??”Kumasukkan beberapa butir Permen Warna-warni lagi dalam mulutku sebelum akhirnya menjawab,”Para penegak hukum yang diharapkan bisa memberikan keadilan malah bisa menodai kebenaran dengan jalan membolak-balik fakta dan bahkan memperdagangkan hukuman.”Aicha melanjutkan,”Yah,Romley yang sudah jelas pengedar,sudah tertangkap dua kali kok masih bisa dikenai hukuman seringan itu dari pasal tambahan.Tak logis.”Aku menggeleng geli,”Jawaban dari semua itu adalah uang.Dia menyogok agar barang bukti shabu-shabunya bisa dikurangi sebelum diperiksa di lab lalu membeli sebuah pasal tambahan agar hukumannya ringan.”kataku pasrah.”Omong kosong bila buktinya tinggal satu kantong,aku berani sumpah melihat sekerdus penuh ketika penggerebekan itu..”dengus Aicha,”Dasar sampah masyarakat!”lanjutnya.Aku tersenyum simpul,”Yang sampah siapa?”Aicha memandangku,”Aku kini mengerti maksudmu selama ini,mereka para aparat yang justru menyebabkan ini semua,merekalah sumber sampah-sampah.”Aku menyodorkan kantong permen padanya lagi.Kali ini dia ikut mengambil satu dan mengunyah bersamaku.Dalam hati aku ketakutan.Ketakutan apabila suatu hari nanti aku tak bisa menggunakan permen warna warni lagi sebagai tiket untuk melupakan ironisnya kenyataan ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s