A Leopard can’t changes its spots

Stacia stare at the window.Her eyes are black,her hair is black,and her skin is also black.She has a younger sister called Stella.Stella has white skin,brown hair,and clear skyblue eyes.How can?Yeah,Stacia’s mother is an african american and her father is an englishman.Stacia looks like her mum and Stella looks like her dad.’What an unlucky me’,she always thinks like that.She is thirteen now and her frienda always laugh at the difference between she and Stella.Stella also laughes at Stacia although her parents always told her off because of this.”Good evening black angel,how was your day,eh?”Stacia heard a lovely voice of her little sister.”Don’t disturb me.”answered Stacia.Stacia turn and look at Stella.Stella is wearing pink blouse and blue jeans.Her hair is shining under the sunshine beautifully.Stacia stare to the window again.She sees the beautiful sunset from the bedroom window every evening.”You haven’t answered my question!How was your day?”Stella asked again,she wants to annoy her sister.”Not really bad.”Stacia said.”Ou,so your friends didn’t annoy you?”Stacia is used to be mad if Stella ask such kind of questions but now she is only smiling and said wisely,”They annoyed me,they laughed at my curly and horrible hair,they said that you was as pretty as liitle angel and I was as horrible as a witch,but I know a leopard can’t change its spots,I know I can’t change who I am.I know I am not pretty,I know I am not really clever like you my sis,but one thing you must know;I am proud to be myself.I love my curly black hair,it’s a special edition from God,I love my black skin cause it makes me different from others if we take a class photo,I love my black eyes cause God says He has given me precious black pearls,and I thank God for giving me this life.”Stella hug her sister and say,”You are right.I love you,although you aren’t pretty or clever,you are still my sista.”

You can’t change who you are but can change your way to see yourself.Be yourself!-Joanagw

Advertisements

Permen Warna-Warni

Aku beranjak dari kursi berlenganku.”Aicha,mau permen?”tawarku pada Aicha yang duduk di sebelahku.Aicha menggeleng pelan,pandangannya menerawang ke arah jendela besar di ruang kerja kami.”Kamu akhir-akhir ini kenapa sih Cha?Kok jadi diam banget?”tanyaku.Aicha diam saja.Aku menggeret kursiku mendekat.”Cha?”Aicha menatapku.”Fay,aku hampir menyerah menghadapi kasus ini.”katanya.Kukunyah beberapa butir permen warna kuning sekaligus.Bunyi gemertak dan semburan cokelat cairnya membuatku bisa keluar dari beban berat ini sebentar.Segera sesudah lapisan terakhirnya meleleh habis,pikiranku sudah kembali pada realita yang mengikat dan harus dihadapi.”Titik terang memang belum tampak namun percayalah suatu saat kita pasti bisa membuktikan bahwa si Romley sialan itu memang pengedar,bukan hanya pemakai.”Aicha menangkupkan dua tangannya di pipi.”Aku pusing.Aku sedih,marah,dan kesal.”Aku menyambungnya,”Pada Bu Sussan?”Aicha menggeleng.”Bukan cuma pada Bu Susan tapi pada para aparat penegak hukum negara kita.”Aku mendesah.Aku memahami maksudnya karena aku sensiri juga merasakan hal yang sama.Aku sering merasa dunia ini bisa membuat siapapun ikut jadi gila jika terlalu lama berkecimpung di dalamnya.Malah terkadang aku jadi bisa memahami alasan orang-orang yang kuselidiki memakai narkoba.Mereka butuh sesuatu sebagai tiket untuk keluar dari realita yang ada,walaupun hanya untuk sesaat.Sama seperti aku dan permen warna-warniku.”Ini jaman gila memang Cha.Aku belajar satu hal dari pengalamanku selama bekerja di sini.”gumamku lebih ditujukan pada diri sendiri ketimbang pada Aicha.Aicha mendongak,”Apa??”Kumasukkan beberapa butir Permen Warna-warni lagi dalam mulutku sebelum akhirnya menjawab,”Para penegak hukum yang diharapkan bisa memberikan keadilan malah bisa menodai kebenaran dengan jalan membolak-balik fakta dan bahkan memperdagangkan hukuman.”Aicha melanjutkan,”Yah,Romley yang sudah jelas pengedar,sudah tertangkap dua kali kok masih bisa dikenai hukuman seringan itu dari pasal tambahan.Tak logis.”Aku menggeleng geli,”Jawaban dari semua itu adalah uang.Dia menyogok agar barang bukti shabu-shabunya bisa dikurangi sebelum diperiksa di lab lalu membeli sebuah pasal tambahan agar hukumannya ringan.”kataku pasrah.”Omong kosong bila buktinya tinggal satu kantong,aku berani sumpah melihat sekerdus penuh ketika penggerebekan itu..”dengus Aicha,”Dasar sampah masyarakat!”lanjutnya.Aku tersenyum simpul,”Yang sampah siapa?”Aicha memandangku,”Aku kini mengerti maksudmu selama ini,mereka para aparat yang justru menyebabkan ini semua,merekalah sumber sampah-sampah.”Aku menyodorkan kantong permen padanya lagi.Kali ini dia ikut mengambil satu dan mengunyah bersamaku.Dalam hati aku ketakutan.Ketakutan apabila suatu hari nanti aku tak bisa menggunakan permen warna warni lagi sebagai tiket untuk melupakan ironisnya kenyataan ini.

A letter for You

I am a girl

I have big dreams

I don’t have many friends although I’m dreaming of it

I have a house but…

I want the real one

A house where I can go home

Where I can sleep soundly

Where I can feel a harmony

Where I can feel love

There are three questions I hate

What is love?

What is God?

And What is life?

What is my life purpose?

I don’t know

I stare on my computer

I feel lonely

I’m still thinking of this while I am typing these words

Suddenly I hear Your whispers

Deep in my heart

“You are not alone.”

“I’m here with you”

“You are alive here because I had chosen you”

“Use your life to glorified My Name.”

I asked “Who are You?”

And I hear the answer….

deep in my heart